Rabu, 04 Agustus 2010

Maradeka tau ogie

Budaya Bugis Tergerus

Versi printer-friendly MAKASSAR -- Kebanggaan bersuku Bugis dengan kelebihannya yang telah diakui dunia internasional tidak diiringi penerapan nilai-nilai budaya Bugis. Budaya etnis Bugis malah semakin tergerus dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Keprihatinan pada semakin minimnya implementasi budaya Bugis mengemuka pada seminar Budaya Bugis yang dilaksanakan komunitas mahasiswa Bone Taro Ada Taro Gau. Seminar di Aula Al-Amien Universitas Muhammdiyah Makassar, 3 Mei, menghadirkan pembicara Prof Dr Hamdan Juhanis, Sosiolog UIN Makassar, Dr Akhyar Anwar, Basri Tetteng, budayawan UNM, dan dosen psikologi lintas budaya Fakultas Psikologi UNM.

Seminar yang dihadiri sekitar 400 peserta termasuk budayawan, Muh Yushan, Andi Baetal Muqaddas, serta politisi asal Bone, Andi Irsan Galigo.
Kegiatan ini dibuka Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bone, Andi Ruslan. Nilai budaya Siri pada manusia Bugis, seperti "lempu" (kejujuran), sipakatau, sipakalebbi, sipakaraja dan sipakainge (saling menghargai dan menghormati, saling mengingatkan dan mengasihi sesama, tanpa melihat latar belakang budaya, suku dan agama), dan getteng (tegas pada prinsip nilai-nilai kebaikan) semakin tererosi dalam kehidupan sehari-hari.
Maka, tidak mengherankan bila pada kegiatan politik banyak orang Bugis menjadi koruptor, Markus (makelar kasus), menghalalkan segala cara meraih dan mempertahankan kekuasaan.
Bahkan, perilaku anarkisme pun kerap mewarnai kehidupan sosial orang Bugis dan menjadi sorotan. Masyarakat yang mengaku etnis Bugis sejatinya mengimplementasikan nilai-nilai Bugis dalam kehidupan sehari hari. (rif)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar